Membentuk Pribadi - pribadi Muslim yang Berilmu dan Beriman Sempurna Berdasarkan Al - Qur'an dan Sunnah Rasul yang Nyata -
Tampilkan postingan dengan label MATERI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MATERI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 November 2016

Kaulah Ksatria Islam



Oleh: Gania Haura Insiyyah

Ditengah – tengah  hiruk pikuknya zaman
kau tampil sebagai kesatria islam
Lisanmu dibasahi dengan lantunan dakwah yang menyejukan
Bagi setiap yang mendengarkan
            Huru hara yang yang mewarnai patamorgana perjuangan
Membuat langkahmu semakin kuat tuk menggapai kemenangan
Giroh perjuangan yang tertancap dihatimu
            Kian membara, tuk membela Agamamu
Kaulah kesatria islam
Lisanmu indah, dihiasi syair - syair dakwah
Perbuatanmu menyejukan, disandarkan akhlakul karimah
Langkahmu menyanjungkan, menegakan agama yang kaffah
            Kaulah kesatria islam..
            Iri rasanya melihat indah perangaimu
            Ingin rasanya mendekap perbuatanmu
            Tuk menambah deposito amal ibadahku…
Merajut ukhwah dalam perjuangan
Membuat kita semakin kuat dan semangat
Berada digarda terdepan
Perjuangan islam yang hebat.
Berjuanglah wahai sepmiwan dan sepmiwati
Kita adalah pejuang sejati
Yang diamanahi oleh sang ilahi robbi
Tuk meneruskan derap langkah perjuangan Rosululloh yang kita cintai
Ikatan aqidah yang tertanam dalam hati sanubari
Akan menyatukan kita dengan cinta yang hakiki
Pemberi kemenangan yang sejati
Hinggakan bertemu disurga nan abadi.
            Kaulah kesatria islam..
            Berjuanglah…
            Berkaryalah….
            Demi perjuangan islam yang dirioi..
Salam perjuangan .. semoga menginspirasi…

Jumat, 21 Oktober 2016

Kiat Memperkokoh Ukhuwah


Ukhuwah adalah sebuah jalinan persaudaraan yang tumbuh karena iman yang kuat kepada Allah. Boleh dikatakan, inilah bentuk hubungan sesama manusia yang paling hakiki, karena tidak dilandasi oleh sesuatu yang nisbi. Nah, untuk mendapatkan sesuatu yang demikian itu, beberapa tips ini bisa kita gunakan!
1. Memberitahukan kecintaan kita kepada orang yang kita cintai
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik, "ada sesorang yang disamping Rasulullah. lalu seorang sahabat berlalu didepannya. Orang yang disamping Rasulullah tadi berkata, 'aku menyintai dia, ya Rasulullah.' lalu Nabi menjawab, 'belum.' Kemudian Rasulullah bersabda, 'beritahukan kepadanya seraya berkata aku menyintaimu karena Allah. Kemudian orang yang dicintaimu itu menjawab, semoga Allah menyintaimu karena engkau menyintaiku karena Nya."
2. Mohon didoakan bila berpisah
"Tidaklah seorang hamba mukmin berdoa untuk saudaranya dari kejauhan melainkan malaikat berkata, 'dan bagimu juga seperti itu."
3. Menunjukan kegembiraan dan senyuman bila berjumpa
"Janganlah engkau meremehkan kebaikan (apa saja yang datang dari saudaramu), dan jika kamu berjumpa dengan saudaramu maka berikan dia senyuman kegembiraan." (HR.Muslim)
4. Berjabat tangan bila berjumpa
"Tidak ada dua orang mukmin yang berjumpa lalu berjabat tangan, melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah."(HR.Abu Daud dari Barra)
5. Sering silaturahim
Imam malik meriwayatkan: berkata Nabi SAW bahwa Allah berfirman, "pasti akan mendapat kecintaanKu orang - orang yang mencintai karena Aku, dimana keduanya saling berkunjung karena Aku dan saling memberi karena Aku."(HR.Imam Dailami dari anas)
6. Memberikan hadiah pada waktu - waktu tertentu
"Hendaklah kalian saling memberi hadiah karena hadiah itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati."(HR.Imam Dailami Anas)
7. Memerhatikan saudaranya dab membantu keperluannya
"Siapa yang meringankan beban penderitaan seorang mukmin didunia, pasti Allah akan meringankan beban penderitaannya diakhirat kelak..."(HR. Muslim)
8. Mengucapkan "selamat" berkenaan dengan saat - saat keberhasilan "Barangsiapa mengucapkan selamat kepada saudaranya ketika saudaranya mendapatkan kebahagiaan, niscaya Allah menggembirakannya pada hari kiamat."(HR.Thabrani)
wallahua’lam
billahie fie sabilil haq

Sabtu, 11 April 2015

KUM !!! FA'ANDIR (SAATNYA MULAI BANGKIT)



materi ini di ambil dari dakwatuna.comdan dijadikan materi untuk acara MABIT Komisariat SEPMI YPI Sukawening Kabupaten Garut. Semoga Bermanfaat!
Surat al-Mudatsir diturunkan Allah di Makkah, setelah surat al-Muzammil sebagaimana urutannya dalam al-mushaf al-utsmâny [1]. Surat ini secara umum memiliki isi yang serupa dengan surat sebelumnya. Yaitu tentang perintah langsung Allah kepada Nabi Muhammad saw untuk menyerukan dakwahnya. Menyampaikan dakwah kepada kaum beliau. Selain itu, juga membicarakan tentang kondisi neraka dan orang-orang musyrik yang mengingkari dakwah Rasulullah saw [2].
Jika dalam surat al-Muzammil Allah lebih menitikberatkan pada persiapan mental dan bekal seorang dai atau nabi yang akan mengemban risalah dakwah-Nya, maka dalam surat ini Allah memberitahukan langkah praktis yang mesti diambil seorang pengemban risalah.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ ١ 
 قُمۡ فَأَنذِرۡ ٢ 
“Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan!”(QS.74: 1-2)
Ini adalah sebuah seruan langsung. Untuk menanggalkan kemalasan dan melawat tabiat serta sesuatu yang disukai oleh manusia, yaitu bersantai-santai, tidur atau menjahui resiko dan bekerja keras. “Bangunlah. Lakukan sesuatu yang berarti. Peringatkan kaummu selagi masih ada kesempatan.” Kira-kira seperti itulah pesan Allah pada kekasih-Nya.
Inilah saatnya segera bangkit. Menyampaikan risalah Allah, karena yang memerintahkannya adalah Zat yang kekuasaan-Nya tanpa batas dan sudah memiliki semua jaminan.
Pertama,
وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ٣ 
 “Dan Tuhanmu agungkanlah!” (QS.74:3)
Seorang penyampai risalah, baik dia seorang dai atau nabi sekalipun, dia harus mengagungkan Allah yang mengutusnya. Jika ia memahami hal ini dan benar- benar ia jiwai maka segala bentuk kemegahan, kebesaran dan kemewahan dunia akan kecil di matanya. Ia takkan tergiur oleh gemerlapnya dunia. Juga tidak akan silau dengan tipu kekuasaan dunia. Tidak pula takut oleh segala bentuk ancaman yang datang dari selain Allah. Siapapun dia, raja atau penguasa dari belahan dunia manapun. Kekuasaan dan kesombongannya tak akan ada yang bisa mengalahkan Yang Maha Perkasa dan Agung. Dan kelak Allah akan menghukum hamba-hamba-Nya yang berani menyombongkan diri. Sehingga tak akan ada kebesaran yang tersisa di dunia ini selain kebesaran dan keagungan-Nya [3].
Kedua, 
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ٤ 
“Dan pakaianmu bersihkanlah”. (QS.74: 4)
Setelah itu, ia perlu memperhatikan penampilan fisiknya, bersih dan menarik. Karena ini merupakan salah satu strategi marketing, dengan performance yang meyakinkan setidaknya kesan pertama akan dikenali oleh masyarakat saat berhadapan dengan kita. Karena itulah risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw selalu sarat dengan kebersihan. Makin dalam dan matang keimanan seseorang maka ia akan semakin memelihara kebersihan. Pakaian yang suci menjadi syarat sahnya shalat.
Ketiga
وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ ٥ 
, “Dan perbuatan dosa tinggalkanlah”. (QS.74: 5)
Setelah ia memelihara kebersihan fisik, maka ia menyempurnakannya dengan kebersihan batin. Yaitu dengan menjauhi serta meninggalkan segala macam bentuk dosa. Ini adalah bentuk penaggalan hal-hal yang negatif dari dalam diri seorang dai. Dosa dan maksiat akan mengakibatkan hati seseorang terkotori sehingga kata-katanya juga tak akan lagi memiliki kekuatan. Penafsiran ini senada dengan apa yang dikatakan Ikrimah dan Ibrahim an-Nakha’iy [4]. Dan idealnya memang penampilan fisik yang bagus dibarengi dengan kebersihan hati dan kejernihan jiwa. Hal tersebut akan mengundang pesona dan kharisma yang sangat kuat.
Keempat, 
وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ ٦ 
“Dan Jangan kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak”. (QS.74: 6)
Keikhlasan merupakan penyempurnaan hati yang sudah dijauhkan dari dosa dan maksiat. Akhlak ini juga akan membuat seorang dai kuat dan tangguh. Kerja tanpa pamrih, dan kemurnian dakwah pun terjaga dengan jernihnya hati pelakunya. Larangan ini bertujuan agar para dai penerus dakwah para nabi terus berbuat dan berbuat,  lebih gigih berusaha dan ringan berkorban serta mudah melupakannya setelah itu[5]. Juga tak terlalu menganggap dirinya sudah berbuat banyak sehingga ia merasa hebat dan berjasa bagi orang banyak. Karena hanya orang berjiwa kerdillah yang selalu merasa besar. Sehingga satu-satunya harapan yang ia inginkan hanya dari Zat yang tak pernah habis kedermawanannya serta kepemilikannya tiada batas.
Kelima, 
وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ ٧ 
“Dan untuk (memenuhi) perintah Tuhanmu, bersabarlah”.(QS.74: 7)
Pesan terakhir ini mengindikasikan dan memberi isyarat bahwa dakwah Rasulullah saw tidaklah berjalan mulus dan otomatis mendapat penerimaan yang baik. Kesabaran dan persiapan mental yang telah disinggung dalam surat al-Muzammil setidaknya diharapkan membuat Rasul makin siap menerima reaksi apapun terhadap dakwah yang diserunya. Dan benar, Rasul pun mendapat reaksi yang sangat berat. Teror fisik dan psikis dihadapinya. Juga para pengikutnya tak henti-hentinya menerima acaman dan teror.
Sekilas tujuh ayat pertama ini terkesan sederhana. Tapi kandungan pesannya sangat luar biasa. Berangkat dari pijakan normatif inilah Rasulullah semakin kuat dan gigih dalam berdakwah. Tak takut lagi atas ancaman apapun yang akan menimpa atau diarahkan pada beliau, karena beliau memiliki Sang Penolong yang sangat hebat dan tak terkalahkan.
semoga kita tetap istiqamah
Billahie Fie Sabilil Haq

Selasa, 08 April 2014

Mahfudzot



1. مَنْ سَارَ عَلىَ الدَّرْبِ وَصَلَ
1. Barang siapa berjalan pada jalannya sampailah ia
2. مَنْ جَدَّ وَجَدَ
2. Barang siapa bersungguh-sungguh, dapatlah ia.
3. مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ
3. Barang siapa sabar beruntunglah ia.
 4. مَنْ قَلَّ صِدْقُهُ قَلَّ صَدِيْقُهُ
4. Barang siapa sedikit benarnya/kejujurannya, sedikit pulalah temannya.
5. جَالِسْ أَهْلَ الصِّدْقِ وَالوَفَاءِ
5. Pergaulilah orang yang jujur dan menepati janji.
6. مَوَدَّةُ الصَّدِيْقِ تَظْهَرُ وَقْتَ الضِّيْقِ
6. Kecintaan/ketulusan teman itu, akan tampak pada waktu kesempitan.
7. وَمَااللَّذَّةُ إِلاَّ بَعْدَ التَّعَبِ
7. Tidak kenikmatan kecuali setelah kepayahan.
8.  الصَّبْرُ يُعِيْنُ عَلىَ كُلِّ عَمَلٍ
8. Kesabaran itu menolong segala pekerjaan.
9. جَرِّبْ وَلاَحِظْ تَكُنْ عَارِفًا
9. Cobalah dan perhatikanlah, niscaya kau jadi orang yang tahu.
10. اُطْلُبِ العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلىَ اللَّحْدِ
10. Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang kubur.
11. بَيْضَةُ اليَوْمِ خَيْرٌ مِنْ دَجَاجَةِ الغَدِ
11. Telur hari ini lebih baik daripada ayam esok hari.
12. الوَقْتُ أَثْمَنُ مِنَ الذَّهَبِ
12. Waktu itu lebih mahal daripada emas.
13. العَقْلُ السَّلِيْمُ فيِ الجِسْم السَّلِيْمِ
13. Akal yang sehat itu terletak pada badan yang sehat.
14. خَيْرُ جَلِيْسٍ فيِ الزَّمَانِ كِتَابٌ
14. Sebaik-baik teman duduk pada setiap waktu adalah buku.
15. مَنْ يَزْرَعْ يَحْصُدْ
15. Barang siapa menanam pasti akan memetik (mengetam).
16.  خَيْرُ الأَصْحَابِ مَنْ يَدُلُّكَ عَلىَ الخَيْرِ
16. Sebaik-baik teman itu ialah yang menunjukkan kamu kepada kebaikan.
17. لَوْلاَ العِلْمُ لَكَانَ النَّاسُ كَالبَهَائِمِ
17. Seandainya tiada berilmu niscaya manusia itu seperti binatang.
18. العِلْمُ فيِ الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ عَلىَ الحَجَرِ
18. Ilmu pengetahuan diwaktu kecil itu, bagaikan ukiran di atas batu.
19. لَنْ تَرْجِعَ الأَياَّمُ الَّتيِ مَضَتْ
19. Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu.
20. تَعَلَّمَنْ صَغِيْرًا وَاعْمَلْ بِهِ كَبِيْرًا
20. Belajarlah di waktu kecil dan amalkanlah di waktu besar.
21. العِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَر
21. Ilmu tiada amalan bagaikan pohon tidak berbuah.
22.  الاتِّحَادُ أَسَاسُ النَّجَاحِ
22. Bersatu adalah pangkal keberhasilan.
23. لاَ تَحْتَقِرْ مِسْكِيْنًا وَكُنْ لَهُ مُعِيْناً
23. Jangan engkau menghina orang miskin bahkan jadilah penolong baginya.
24. الشَّرَفُ بِالأَدَبِ لاَ بِالنَّسَبِ
24. Kemuliaan itu dengan adab kesopanan, (budi pekerti) bukan dengan keturunan.
25. سَلاَمَةُ الإِنْسَانِ فيِ حِفْظِ اللِّسَانِ
25. Keselamatan manusia itu dalam menjaga lidahnya (perkataannya).
26. آدَابُ المَرْءِ خَيْرٌ مِنْ ذَهَبِهِ
26. Adab seseorang itu lebih baik (lebih berharga) daripada emasnya.
27. سُوْءُ الخُلُقِ يُعْدِي
27. Kerusakan budi pekerti/akhlaq itu menular.
28. آفَةُ العِلْمِ النِّسْياَنُ
28. Bencana ilmu itu adalah lupa.
29. إِذَا صَدَقَ العَزْمُ وَضَحَ السَّبِيْلُ
29. Jika benar kemauannya niscaya terbukalah jalannya.
30. لاَ تَحْتَقِرْ مَنْ دُوْنَكَ فَلِكُلِّ شَيْئٍ مَزِيَّةٌ
30. Jangan menghina seseorang yang lebih rendah daripada kamu, karena segala sesuatu itu mempunyai kelebihan.
31. أَصْلِحْ نَفْسَكَ يَصْلُحْ لَكَ النَّاسُ
31. Perbaikilah dirimu sendiri, niscaya orang-orang lain akan baik padamu.
32. فَكِّرْ قَبْلَ أَنْ تَعْزِمَ
32. Berpikirlah dahulu sebelum kamu berkemauan (merencanakan).
33. مَنْ عَرَفَ بُعْدَ السَّفَرِ اِسْتَعَدَّ
33. Barang siapa tahu jauhnya perjalanan, bersiap-siaplah ia.
34. مَنْ حَفَرَ حُفْرَةً وَقَعَ فِيْهَا
34. Barang siapa menggali lobang, akan terperosoklah ia di dalamnya.
35. عَدُوٌّ عَاقِلٌ خَيْرٌ مِنْ صَدِيْقٍ جَاهِلٍ
35. Musuh yang pandai, lebih baik dari pada  musuh yang bodoh.
36. مَنْ كَثُرَ إِحْسَانُهُ كَثُرَ إِخْوَانُهُ
36. Barang siapa banyak perbuatan baiknya, banyak pulalah temannya.
37. اِجْهَدْ وَلاَ تَكْسَلْ وَلاَ تَكُ غَافِلاً فَنَدَامَةُ العُقْبىَ لِمَنْ يَتَكاَسَلُ
37. Bersungguh-sungguhlah dan jangan bermala-malas dan jangan pula lengah, karena penyesalan itu bagi orang yang bermalas-malas.
38. لاَ تُؤَخِّرْ عَمَلَكَ إِلىَ الغَدِ مَا تَقْدِرُ أَنْ تَعْمَلَهُ اليَوْمَ
38. Janganlah mengakhirkan pekerjaanmu hingga esok hari, yang kamu dapat mengejakannya hari ini.
39. اُتْرُكِ الشَّرَّ يَتْرُكْكَ
39. Tinggalkanlah kejahatan, niscaya ia (kejahatan itu) akan meninggalkanmu.
40. خَيْرُ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً وَأَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
40. Sebaik-baik manusia itu, adalah yang terlebih baik budi pekertinya dan yang lebih bermanfaat bagi manusia.
41. فيِ التَّأَنِّي السَّلاَمَةُ وَفيِ العَجَلَةِ النَّدَامَةُ
41. Di dalam hati-hati itu adanya keselamatan, dan di dalam tergesa-gesa itu adanya penyesalan.
42. ثَمْرَةُ التَّفْرِيْطِ النَّدَامَةُ وَثَمْرَةُ الحَزْمِ السَّلاَمَةُ
42. Buah sembrono/lengah itu penyesalan, dan buah cermat itu keselamatan.
43. الرِّفْقُ بِالضَّعِيْفِ مِنْ خُلُقِ الشَّرِيْفِ
43. Berlemah lembut kepada orang yang lemah itu, adalah suatu perangai orang yang mulia (terhormat).
44. فَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا
44. Pahala/imbalan suatu kejahatan itu adalah kejahatan yang sama dengannya.
45. تَرْكُ الجَوَابِ عَلىَ الجَاهِلِ جَوَابٌ
45. Tidak menjawab terhadap orang yang bodoh itu adalah jawabannya.
46. مَنْ عَذُبَ لِسَانُهُ كَثُرَ إِخْوَانُهُ
46. Barang siapa manir tutur katanya (perkataannya) banyaklah temannya.
47. إِذَا تَمَّ العَقْلُ قَلَّ الكَلاَمُ
47. Apabila akal seseorang telah sempurna maka sedikitlah bicaranya.
48. مَنْ طَلَبَ أَخًا بِلاَ عَيْبٍ بَقِيَ بَلاَ أَخٍ
48. Barang siapa mencari teman yang tidak bercela, maka ia akan tetap tidak mempunyai teman.
49. قُلِ الحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا
49. Katakanlah yang benar itu, walaupun pahit.
50. خَيْرُ مَالِكَ مَا نَفَعَكَ
50. Sebaik-baik hartamu adalah yang bermanfaat bagimu.
51. خَيْرُ الأُمُوْرِ أَوْسَاطُهَا
51. Sebaik-baik perkara itu adalah pertengahanya (yang sedang saja).
52. لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ وَلِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامٌ
52. Tiap-tiap tempat ada kata-katanya yang tepat, dan pada setiap kata ada tempatnya yang tepat.
53. إِذاَ لمَ ْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
53. Apabila engkau tidak malu, maka berbuatlah sekehendakmu (apa yang engkau kehendaki).
54. لَيْسَ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ فَقِيْرًا بَلِ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ بَخِيْلاً
54. Bukanlah cela itu bagi orang yang miskin, tapi cela itu terletak pada orang yang kikir.
55. لَيْسَ اليَتِيْمُ الَّذِي قَدْ مَاتَ وَالِدُهُ بَلِ اليَتِيْمُ يَتِيْمُ العِلْمِ وَالأَدَبِ
55. Bukanlah anak yatim itu yang telah meninggal orang tuanya, tapi (sebenarnya) yatim itu adalah yatim ilmu dan budi pekerti.
56.  لِكُلِّ عَمَلٍ ثَوَابٌ وَلِكُلِّ كَلاَمٍ جَوَابٌ
56. Setiap pekerjaan itu ada upahnya, dan setiap perkataan itu ada jawabannya.
57. وَعَامِلِ النَّاسَ بِمَا تُحِبُّ مِنْهُ دَائِماً
57. Dan pergaulilah manusia itu dengan apa-apa yang engkau sukai daripada mereka semuanya.
58.  هَلَكَ امْرُؤٌ لَمْ يَعْرِفْ قَدْرَهُ
58. Hancurlah seseorang yang tidak tahu dirinya sendiri.
59. رَأْسُ الذُّنُوْبِ الكَذِبُ
59.Pokok dosa itu, adalah kebohongan.
60. مَنْ ظَلَمَ ظُلِمَ
60. Barang siapa menganiaya niscaya akan dianiaya.
61. لَيْسَ الجَمَالُ بِأَثْوَابٍ تُزَيِّنُنُا إِنَّ الجَمَالَ جمَاَلُ العِلْمِ وَالأَدَبِ
61. Bukanlah kecantikan itu dengan pakaian yang menghias kita, sesungguhnya kecantikan itu ialah kecantikan dengan ilmu dan kesopanan.
62. لاَ تَكُنْ رَطْباً فَتُعْصَرَ وَلاَ يَابِسًا فَتُكَسَّرَ
62. Janganlah engkau bersikap lemah, sehingga kamu akan diperas, dan janganlah kamu bersikap keras, sehingga kamu akan dipatahkan.
63. مَنْ أَعاَنَكَ عَلىَ الشَّرِّ ظَلَمَكَ
63. Barang siapa menolongmu dalam kejahatan maka ia telah menyiksamu.
64. أخِي لَنْ تَنَالَ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ
64. Saudaraku! Kamu tidak akan mendapatkan ilmu, kecuali dengan enam perkara, akan aku beritahukan perinciannya dengan jelas :
1). Kecerdasan
2). Kethoma’an (terhadap ilmu)
3). Kesungguhan
4). Harta benda (bekal)
5). Mempergauli guru
6). Waktu yang panjang
65. العَمَلُ يَجْعَلُ الصَّعْبَ سَهْلاً
65. Bekerja itu membuat yang sukar menjadi mudah.
66. مَنْ تَأَنَّى نَالَ مَا تَمَنَّى
66. Barang siapa berhati-hati niscaya mendapatkan apa-apa yang ia cita-citakan.
67. اُطْلُبِ العِلْمَ وَلَوْ بِالصَّيْنِ
67. Carilah/tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina.
68. النَّظَافَةُ مِنَ الإِيْمَانِ
68. Kebersihan itu sebagian dari iman.
69. إِذَا كَبُرَ المَطْلُوْبُ قَلَّ المُسَاعِدُ
69. Kalau besar permintaannya maka sedikitlah penolongnya.
70. لاَ خَيْرَ فيِ لَذَّةٍ تَعْقِبُ نَدَماً
70. Tidak ada baiknya sesuatu keenakan yang diiringi (oleh) penyesalan.
71. تَنْظِيْمُ العَمَلِ يُوَفِّرُ نِصْفَ الوَقْتِ
71. Pengaturan pekerjaan itu menabung sebanyak separohnya waktu.
72. رُبَّ أَخٍ لَمْ تَلِدْهُ وَالِدَةٌ
72. Berapa banyak saudara yang tidak dilahirkan oleh satu ibu.
73. دَاوُوْا الغَضَبَ بِالصُّمْتِ
73. Obatilah kemarahan itu dengan diam.
74. الكَلاَمُ يَنْفُذُ مَالاَ تَنْفُذُهُ الإِبَرُ
74. Perkataan itu dapat menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum.
75. لَيْسَ كُلُّ مَا يَلْمَعُ ذَهَباً
75. Bukan setiap yang mengkilat itu emas.
76. سِيْرَةُ المَرْءِ تُنْبِئُ عَنْ سَرِيْرَتِهِ
76. Gerak-gerik seseorang itu menunjukkan rahasianya.
77. قِيْمِةُ المَرْءِ بِقَدْرِ مَا يُحْسِنُهُ
77. Harga seseorang itu sebesar (sama nilainya) kebaikan yang telah diperbuatnya.
78. صَدِيْقُكَ مَنْ أَبْكَاكَ لاَ مَنْ أَضْحَكَكَ
78. Temannmu ialah orang yang menangiskanmu (membuatmu menangis) bukan orang yang membuatmu tertawa.
79. عَثْرَةُ القَدَمِ أَسْلَمُ مِنْ عَثْرَةِ اللِّسَانِ
79. Tergelincirnya kaki itu lebih selamat daripada tergelincirnya lidah.
80. خَيْرُ الكَلاَمِ مَا قَلَّ وَدَلَّ
80. Sebaik-baik perkataan itu ialah yang sedikit dan memberi penjelasannya/jelas.
 81. كُلُّ شَيْئٍ إِذَا كَثُرَ رَخُصَ إِلاَّ الأَدَبَ
81. Segala sesuatu apabila banyak menjadi murah, kecuali budi pekerti.
82. أَوَّلُ الغَضَبِ جُنُوْنٌ وَآخِرُهُ نَدَمٌ
82. Permulaan marah itu adalah kegilaan dan akhirnya adalah penyesalan.
83. العَبْدُ يُضْرَبُ بِالعَصَا وَالحُرُّ تَكْفِيْهِ بِالإِشَارَةِ
83. Hamba sahaya itu harus dipukul dengan tongkat, dan orang yang merdeka (bukan budak) cukuplah dengan isyarat.
84. اُنْظُرْ مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ
84. Perhatikanlah apa-apa yang dikatakan (diucapkan) dan janganlah meperhatikan siapa yang mengatakan.
85. الحَسُوْدُ لاَ يَسُوْدُ
85. Orang yang pendengki itu tidak akan menjadi mulia.
86. الأَعْمَالُ بِخَوَاتِمِهَا
86. Tiap-tiap pekerjaan itu dengan penyelesaiannya.
87. إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً # وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ
87. Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka.
88. فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ # فَإِنَّكَ غَافْرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ
88. Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar.
89. ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ # فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذاَالجَلاَلِ
89. Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan.
90. وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ # وَذَنْبيِ زَئِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ
90. Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya.
91. إِلهِي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ
91. Wahai, Tuhanku ! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu.
93. فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَا أَهْلٌ # فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ
Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah ahli pengampun # Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?